Kamis, 14 Juni 2012

BENTUK-BENTUK DASAR DARI GERAK


BENTUK-BENTUK DASAR DARI GERAK
Dialectics Of Nature
oleh Friedrich Engels

Gerak dalam arti yang paling umum, difahami sebagai gaya keberadaan, atribut yang inheren, dari materi, mencakup/meliputi semua perubahan dan proses yang berlangsung dalam jagat raya, dari sekedar perubahan/pergantian tempat hingga sampai pada pikiran. Penyelidikan mengenai sifat gerak sudah dengan sendirinya mesti dimulai dari bentuk-bentuk gerak ini yang paling sederhana, paling rendah dan belajar menangkap semua itu sebelum ia dapat mencapai sesuatu sebagai penjelasan mengenai bentuk-bentuk yang lebih tinggi dan lebih rumit. Karenanya, dalam evolusi historikal ilmu-ilmu pengetahuan alam kita melihat bagaimana yang paling pertama-tama sekali dikembangkan adalah teori mengenai perubahan tempat yang paling sederhana, mekanika dari benda-benda langit dan massa-massa bumi; ia kemudian disusul oleh teori mengenai gerak molekular, fisika, dan segera kemudian, nyaris bersama-sama dan di beberapa tempat mendahuluinya, ilmu pengertahuan mengenai gerak atom-atom, kimia. Hanya setelah berbagai cabang pengetahuan mengenai bentuk-bentuk gerak yang menguasai alam tidak-hidup itu telah mencapai suatu derajat perkembangan yang tinggi, baru dapatlah penjelasan mengenai proses-proses gerak yang mewakili proses kehidupan itu ditangani dengan berhasil. Ini maju secara proporsional dengan kemajuan mengenai mekanika, fisika dan kimia. Akibatnya, sementara mekanika telah cukup lama secara sepadan mampu merujukkan efek-efek penungkil-penungkil tulang yang digerakkan oleh kontraksi otot dalam tubuh hewan pada hukum-hukum yang berlaku juga dalam alam tidak-hidup, substansiasi fisiko-kimiawi gejala-gejala lain dari kehidupan masih sangat berada pada awal perkembangannya. Karenanya di sini, dalam penyelidikan sifat gerak, kita terpaksa memasukkan bentuk-bentuk organik dari gerak itu,. Kita terpaksa membatasi diri kita--sesuai dengan keadaan ilmu-pengetahuan--pada bentuk-bentuk gerak dari alam tidak-hidup.
Semua gerak bertautan dengan sesuatu perubahan/pergantian/perpindahan tempat, apakah itu perubahan tempat benda-benda angkasa, massa-massa bumi, molekul-molekul, atom-atom, atau partikel-partikel ether. Semakin tinggi bentuk gerak itu, semakin kecil perubahan tempat itu. Ia sama sekali tdiak menguras habis sifat dari gerak bersangkutan, melainkan adalah tidak terpisahkan dari gerak itu. Ia, karenanya, mesti diselidiki sebelum kita menyelidiki apapun lainnya.
Keseluruhan alam yang terbuka bagi kita merupakan sebuah sistem, suatu totalitas yang saling-berkait dari benda-benda, dan dengan bgenda-benda kita mengartikan di sini semua keberadaan (eksistensi) material yang terentang dari bintang-bintang hingga atom-atom, bahkan sampai pada partikel-partikel ether, sejauh diakui keberadaan yang tersebut terakhir itu. Dalam kenyataan bahwa benda-benda ini saling-berkaitan sudah tercakup (pengertian) bahwa mereka bereaksi satu pada yang lainnya, dan justru reaksi timbal balik (satu sama lain) inilah yang menjadikan gerak. Sudah terbukti di sini bahwa materi itu tidak terbayangkan tanpa gerak. Dan apabila, sebagai tambahan, materi dihadapkan pada kita sebagai sesuatu yang tertentu, sama-sama tidak-dapat-diciptakan dan tidak-dapat-dihancurkan, maka berarti bahwa gerak juga tidak-dapat-diciptakan dan tidak-dapat-dihancurkan. Telah menjadi tidak mungkin untuk menolak kesimpulan ini segera setelah diakui bahwa jagat raya merupakan sebuah sistem, suatu antar-keterkaitan benda-benda. Dan sejak pengakuan ini dicapai oleh filsafat, lama sebelum ia diberlakukan secara efektif dalam ilmu-pengetahuan alam, dapatlah dimengerti mengapa filsafat, selama duaratus tahun sebelum ilmu-pengetahuan alam, menarik kesimpulan mengenai tidak-dapat-diciptakan dan tidak- dapat-dihancurkannya gerak. Bahkan bentuk yang dipakainya untuk melakukan ini masih lebih unggul daripada perumusan masa-kini dari ilmu-pengetahuan alam. Azas Descartes, bahwa jumlah (die Menge) gerak yang terdapat di dalam alam jagat selalu sama, hanya mengandung kelemahan-formal karena telah memakai suatu ungkapan terbatas bagi suatu kebesaran tak-terhingga. Sebaliknya, dua buah ungkapan mengenai hukum yang sama yang sekarang berlaku dalam ilmu-pengetahuan alam: hukum Helmholtz mengenai konservasi daya/tenaga, dan hukum yang lebih baru, yang lebih tepat, yaitu mengenai konservasi energi. Dari kedua-duanya ini, yang pertama, seperti akan kita lihat, mengatakan justru kebalikan dari yang lainnya, dan lebih dari itu, masing-masingnya hanya mengungkapkan satu sisi dari hubungan itu.
Manakala dua benda saling beraksi satu-sama-lain sehingga mengakibatkan suatu permindahan tempat dari yang satu atau pada kedua-duanya, maka perpindahan tempat ini hanya dapat berupa suatu pendekatan atau suatu pemisahan. Mereka saling tarik satu-sama-lain atau mereka saling menolak satu-sama-lain. Atau, sebagaimana mekanika menyatakannya, kekuatan-kekuatan yang beroperasi di antara mereka bersifat sentral, beraksi sepanjang garis yang menyatukan pusat-pusat mereka. Bahwa ini yang terjadi, bahwa demikian kenyataannya tanpa kecuali di seluruh alam jagat, betapapun rumitnya banyak gerakan mungkin tampaknya, dewasa ini diterima sebagai sesuatu yang dengan sendirinya begitu. Akan tampak tidak-masuk-akal untuk berasumsi, manakala dua benda beraksi satu pada yang lainnya dan saling interaksi itu tidak dilawan oleh hambatan apapun atau pengaruh suatu benda ketiga, maka aksi ini mesti dipengaruhi secara lain daripada sepanjang jalan yang terpendek dan paling langsung, yaitu, sepanjang garis lurus yang menyatukan/menghubungkan pusat-pusat mereka.*) Lagi pula, sudah sangat diketahui, bahwa Helmholtz (Erhaltung der Kraft, Berlin 1847, Seksi I dan II) telah memberikan bukti matematikal bahwa aksi sentral dan tidak-dapat-diubahnya jumlah gerak (Bewegungsmenge)48) dikondisikan secara timbal-balik dan bahwa anggapan mengenai aksi-aksi lain kecuali yang sentral itu membawa pada hasil-hasil di mana gerak dapat atau diciptakan atau dihancurkan. Karena itulah bentuk dasar dari semua gerak adalah pendekatan dan pemisahan, kontraksi dan pemuaian--singkatnya, pertentangan-pertentangan polar(kutub) lama dari tarikan dan tolakan.
Yang secara istimewa mesti diperhatikan ialah, bahwa di sini, tarikan dan tolakan tidak dipandang sebagai "kekuatan-kekuatan" tetapi sebagai bentuk-bentuk sederhana dari gerak, tepat sebagaimana Kant sudah memahami materi sebagai kesatuan tarikan dan tolakan. Yang mesti difahami dengan "kekuatan-kekuatan" akan ditunjukkan kelak pada waktunya.
Semua gerak terdiri atas saling-pengaruh tarikan dan tolakan. Namun, gerak hanya mungkin pabila setiap tarikan individual dikompensasi oleh tolakan yang bersesuaian di sesuatu tempat lainnya. Jika tidak begitu maka pada waktunya satu sisi akan menjadi lebih kuasa atas yang lainnya dan gerak itu akhirnya akan berhenti. Karenanya, semua tarikan dan semua tolakan dalam jagat raya mesti saling mengimbangi satu sama lain. Demikianlah hukum tidak-dapat-dihancurkan dan tidak-dapat-diciptakannya gerak terungkap dalam bentuk bahwa setiap gerak tarikan dalam jagat raya mesti mempunyai sebagai komplemennya suatu gerak tolakan ekuivalen (kesetaraan) dan vice versa; atau, sebagaimana filsafat kuno--lama sebelum perumusan ilmiah-alam mengenai hukum konservasi tenaga atau energi--menyatakannya: jumlah dari semua tarikan dalam alam jagat raya adalah sama dengan jumlah semua tolakan.
Namun, di sini tampaknya masih terdapat dua kemungkinan bagi semua gerak untuk berhenti pada sesuatu waktu, baik itu dikarenakan oleh tolakan dan tarikan yang akhirnya saling membatalkan satu sama lain dalam kenyataan aktual, ataupun dengan total tolakan yang akhirnya menguasai suatu bagian materi dan total tarikan menguasai bagian lainnya. Bagi konsepsi dialektikal, kemungkinan-kemungkinan ini sejak awal dimustahilkan. Sejauh ini, dialektika telah membuktikan dari hasil-hasil pengalaman kita tentang alam, bahwa semua oposisi kutub pada umumnya ditentukan oleh aksi timbal-balik kedua kutub yang berlawanan, bahwa pemisahan dan pertentangan dari kutub-kutub ini hanya ada di dalam saling keterkaitan dan persatuan mereka, dan, sebaliknya, bahwa kesatuan mereka hanya ada di dalam pemisahan mereka dan saling-keterkaitan mereka hanya dalam pertentangan mereka. Setelah ini ditandaskan, tidak ada masalah suatu pembatalan final dari tolakan dan tarikan, atau mengenai suatu pembagian final di antara satu bentuk gerak dalam separoh materi dan bentuk gerak lainnya dalam separoh materi lainnya, karenanya tidak ada masalah saling-penyusupan (penetrasi)49) atau pemisahan mutlak dari kedua kutub itu. Itu akan sama saja dengan menuntut, dalam kasus pertama, bahwa kutub utara dan kutub selatan dari sebuah magnet mesti saling-membatalkan atau, dalam kasus kedua, bahwa membagi sebuah magnet di tengah-tengah antara kedua kutub itu di satu sisi mesti menghasilkan suatu paroh utara tanpa suatu kutub selatan, dan di sisi lainnya suatu paroh selatan tanpa suatu kutub utara. Sekalipun--namun--kemustahilan asumsi-asumsi seperti itu segera nyata dari sifat dialektikal oposisi-oposisi kutub, bagaimanapun, berkat gaya pikiran metafisikal dari para ilmuwan alamyang berkuasa, asumsi kedua setidak-tidaknya memainkan suatu bagian tertentu dalam teori fisikal. Hal ini akan dibicarakan pada tempatnya kelak.
Bagaimanakah gerak menghadirkan dirinya dalam interaksi tarikan dan tolakan? Paling tepat hal ini diteliti dalam bentuk-bentuk gerak masing-masing sendiri. Pada akhirnya, aspek umum dari materi akan memperlihatkan dirinya sendiri.
Mari kita ambil gerak sebuah planet di sekitar benda (badan/kumpulan) sentralnya sendiri. Astronomi sekolahan biasa mengikuti Newton dalam menjelaskan elips yang dilukiskan sebagai hasil aksi bersama dari dua kekuatan, tarikan benda sentral dan suatu kekuatan tanjensial (tangential = yang bersinggungan) yang memacu planet itu di sepanjang kenormalan pada arah tarikan ini. Dengan demikian ia mengambil, di samping bentuk gerak yang berarahkan sentral, juga suatu arah lain dari gerak, atau yang dinamakan "kekuatan," perpendikular (garis tegak-lurus) pada garis yang menghubungkan pusat-pusat itu. Dengan begita ia berlawanan/bertentangan dengan hukum dasar tersebut di atas, yang menyatakan bahwa semua gerak di dalam alam semesta kita hanya dapat terjadi di sepanjang garis yang menghubungkan pusat-pusat benda-benda yang satu sama lain beraksi secara timbal balik, atau, seperti juga dikatakan, yang hanya disebabkan oleh "kekuatan-kekuatan" yang beraksi secara sentral. Dengan begitu ia juga memperkenalkan ke dalam teori itu suatu unsur gerak yang, seperti juga telah kita saksikan, mau-tidak-mau membawa pada penciptaan dan penghancuran gerak, dan karenanya mengandaikan suatu pencipta. Yang mesti dilakukan, karenanya, yalah mengurangi kekuatan tanjensial yang misterius ini menjadi suatu bentuk gerak yang beraksi secara sentral, dan inilah yang dicapai/dilaksanakan oleh teori kosmogoni Kant-Laplace. Sebagaimana sudah sangat diketahui, menurut konsepsi ini seluruh sistem matahari lahir dari suatu massa serba-gas yang berputar, yang sangat lemah melalui/lewat kontraksi berangsur-angsur. Gerak rotasional (berputar) jelas paling kuat di khatulistiwa (equator) sfera serba-gas ini, dan cincin-cincin serba-gas individual memisahkan diri dari massa itu dan berkerumun bersama (jadi-satu) menjadi planet-planet, planetoid-planetoid, dsb., yang berputar di sekeliling ben da sentral dalam arah rotasi (perputaran) aslinya. Perputaran ini sendiri lazimnya diterangkan dari gerak partikel-partikel serba-gas itu sendiri-sendiri. Gerak ini terjadi ke semua arah, tetapi akhirnya suatu ekses dalam satu arah tertentu menjadikannya nyata dan dengan begitu menyebabkan gerak berputar itu, yang pasti menjadi semakin kuat dan semakin kuat dengan kontraksi progresif dari sfera serba-gas itu. Tetapi, hipotesis apapun yang dibuat mengenai asal-usul perputaran (rotasi) itu, kesemuanya menghapuskan kekuatan tanjensial, meleburnya dalam suatu bentuk manifestasi khusus dari gerak yang beraksi secara sentral. Apabila satu unsur gerak planeter, yaitu yang langsung sentral, diwakili oleh gravitasi, tarikan antara planet dan benda sentral itu, maka unsur yang lain, yang tanjensial, tampak sebagai sebuah relik, dalam suatu bentuk derivatif atau sudah berubah, dari tolakan asli partikel-partikel individual dari sfera serba-gas itu. Dengan demikian proses kehidupan suartu sistem matahari menghadirkan dirinya sebagai saling-pengaruh-mempengaruhinya tarikan dan tolakan, di mana tarikan berangsur-angsur menjadi semakin unggul-mengungguli disebabkan tolakan yang dipancarkan (radiasi) ke ruang angkasa dalam bentuk panas dan dengan demikian semakin menghilang (terhilang) dari sistem itu.
Selintas-kilas orang melihat bahwa bentuk gerak yang di sini difahami sebagai tolakan adalah sama dengan yang oleh ilmu-fisika modern diistilahkan/disebut "energi." Dengan kontraksi sistem itu dan akibat menjauhnya benda-benda individual yang menjadi pembentuknya dewasa ini, sistem itu telajh kehilangan "energi," dan justru kehilangan ini, menurut perhitungan Helmholtz yang terkenal, sudah mencapai 453/454 (empatratuslimapuluhtiga per empatratuslimapuluhempat) dari jumlah total gerak (Bewegungsmenge) yang aslinya terdapat dalam bentuk tolakan.
Mari kita sekarang mengambil suatu massa dalam bentuk sebuah benda di atas bumi kita sendiri. Ia dikaitkan dengan bumi oleh gravitasi, sebagaimana bumi pada gilirannya terkait pada matahari; namun, tidak seperti bumi, ia tidak berkemampuan akan suatu gerak planeter yang bebas. Ia hanya dapat digerakkan dengan/oleh suatu impuls dari luar, dan bahkan dengan begitu, sesegera impuls itu terhenti, geraknya segera terhenti pula, baik itu dikarenakan oleh gravitas saja ataupun oleh yang tersebut belakangan itu secara terpadu dengan perlawanan medium di mana ia bergerak. Perlawanan ini sebenarnya juga suatu efek dari gravitas, tanpa itu bumi, di atas permukaannya, tidak akan mempunyai medium perlawanan apapun, tidak akan mempunyai atmosfer apapun. Karenanya, dalam gerak yang semurninya mekanikal di atas permukaan bumi kita menghadapi suatu situasi di mana gravitasi, tarikan, secara menentukan berkuasa, di mana, oleh sebab itu, produksi gerak memperlihatkan kedua tahap: pertama gravitas yang beraksi secara berlawanan dan kemudian memperkenankan gravitas itu beraksi--singkatnya, naik dan jatuh.
Maka, kita mendapati lagi aksi timbal-balik antara tarikan di satu pihak dan suatu bentuk gerak yang terjadi dalam arah berlawanan dengannya, karenanya suatu bentuk gerak tolakan, di lain pihak. Tetapi, di dalam lingkup mekanika yang semurninya terestrial [bumi] (yang berurusan dengan massa-massa keadaan-keadaan agregasi dan kohesi tertentu yang diliputinya sebagai tidak-dapat-berubah) bentuk gerak tolakan ini tidak terjadi di dalam alam. Kondisi-kondisi fisikal dan kimiawi yang dengannya segumpal batu-karang menjadi terpisah dari suatu puncak-gunung, atau memungkjinkan jatuhnya air, berada di luar lingkup aksinya. Karenanya, dalam mekanika yang semurninya terestial, gerak tolakan, gerak naik mesti diproduksi secara buatan; dengan tenaga manusia, kekuatan hewani, daya air atau uap, dsb. Dan keadaan ini, keharusan untuk memerangi tarikan alamiah secara buatan, menyebabkan para ahli mekanika menganut pandangan bahwa tarikan, gravitasi, atau--sebagaimana mereka katakan= kekuatan gravitas, merupakan bentuk gerak dalam alam yang paling penting, bahkan yang paling dasar.
Manakala, misalnya, suatu beban (bobot) diangkat dan menghubungkan (mengomunikasikan) gerak pada benda-benda lain dengan langsung atau tak-langsung jatuh, maka menurut pandangan mekanika yang biasa, ia bukanlah pengangkatan beban itu yang mengomunikasikan gerak ini, melainkan adalah gaya gravitas yang melakukannya. Begitulah Helmholtz, misalnya, yang membuat
"kekuatan yang adalah yang paling sederhana dan yang paling kita kenal, yaitu gravitas, yang bertindak sebagai daya pendorongnya.... misalnya dalam lonceng-lonceng yang digerakkan oleh suatu beban. Beban itu.....tidak dapat menuruti tarikan gravitas tanpa membuat seluruh kerja-lonceng itu bergerak." Tetapi ia tidak dapat membuat kerja-lonceng itu bergerak tanpa sendiri turun dan itu terus turun sampai rantai yang padanya ia bergantung sepenuhnya terentang habis: "Lalu lonceng itu akan berhenti, karena kapasitas operatif dari beban itu telah habis untuk sementara waktu. Bobotnya bukannya hilang atau berkurang, ia tetap tertarik hingga batas yang sama oleh bumi, tetapi kapasitas bobot ini untuk menghasilkan gerakan-gerakan telah hilang.... Namun, kita dapat, memutar konceng itu dengan tenaga lengan manusia, sehingga bobot itu kembali dinaikkan. Segera setelah ini terjadi, ia memperoleh kembali kapasitas operatifnya yang semula/sebelumnya dan kembali dapat menggerakkan lonceng itu." (Helmholtz, Populäre Vorträge, II, hal. 144-45.)
Maka itu, menurut Holmholtz, bukanlah komunikasi gerak secara aktif, dinaikkannya bobot/beban, yang membuat lonceng itu bergerak, melainkan beratnya bobot pasif itu, sekalipun berat yang sama ini hanya ditarik dari kepasivannya dengan mengangkatnya, dan sekali lagi balik pada kepasivan setelah rantai beban itu terentang habis. Maka, apabila menurut konsepsi modern, seperti yang sudah kita lihat di atas, energi hanyalah sebuah ungkapan lain buat tolakan, di sini, di dalam konsepsi Helmholtz yang lebih tua, kekuatan tampil sebagai ungkapan lain bagi lawan tolakan, bagi tarikan (atraksi) Untuk sementara kita catat saja hal ini.
Namun, apabila proses mekanika terestial telah sampai pada akhirnya, manakala massa berat itu pertama-tama sekali telah diangkat dan kemudian jatuh kembali melalui ketinggian yang sama, apakah yang terjadi dengan gerak yang menjadikan proses ini? Bagi mekanika murni, ia telah lenyap. Tetapi kita mengetahui sekarang, bahwa ia sama sekali tidaklah dihancurkan. Hingga batas tertentu ia telah diubah menjadi getaran-getaran (vibrasi) udara dari gelombang-gelombang suara, hingga suatu batas yang lebih besar lagi, menjadi panas--yang sebagian telah dikomunikasikan pada atmosfer yang berlawan, sebagian lagi pada benda jatuh itu sendiri, dan sebagian lagi akhirnya pada lantai di atas mana beban itu terhenti. Bobot lonceng itu juga secara berangsur-angsur telah melerpaskan geraknya dalam bentuk panas gesekan pada berbagai roda pendorong/pemacu dari kerja-lonceng itu. Namun, sekalipun lazimnya diungkapkan secara demikian, bukanlah gerak jatuh itu, yaitu tarikan itu, yang telah beralih menjadi panas, dan dengan begitu menjadi suatu bentuk tolakan. Sebaliknya, sebagaimana dengan tepat dinyatakan oleh Helmholtz, tarikan itu, beratnya itu, tetap sebagaimana itu sebelumnya dan, dikatakan secara secermatnya, bahkan menjadi lebih besar. Lebih tepatnya, adalah tolakan itu yang dikomunikasikan pada benda yang terangkat itu dengan mengangkatnya, yang dihancurkan secara mekanikal dengan jatuh dan muncul kembali sebagai panas. Tolakan massa-massa diubah menjadi tolakan molekular.
Panas, sebagaimana sudah dinyatakan, adalah suatu bentuk tolakan. Ia menggerakkan molekul-molekul benda-benda padat beroskilasi (bergoyang-goyang), dengan demikian melepaskan kaitan-kaitan molekul-molekul itu sendiri-sendiri sehingga akhirnya berlangsunglah peralihan ke keadaan cair itu. Dalam keadaan cair itu juga, dengan terus ditambahkannya panas, ia meningkatkan gerak molekul-molekul itu hingga tercapailah suatu derajat di mana molekul-molekul itu sepenuhnya memisahkan diri dari massa itu dan, pada kecepatan tertentu yang ditentukan bagi setiap molekul oleh susunan kimiawinya, mereka bergerak menjauh secara sendiri-sendiri dalam keadaan bebas. Dengan penambahan panas lebih lanjut, kecepatan itu semakin ditingkatkan, dan dengan begitu molekul-molekul itu semakin saling-tolak-menolak satu sama lainnya.
Namun panas itu suatu bentuk dari apa yang dinamakan "energi"; di sini lagi-lagi ternyata bahwa yang tersebut belakangan itu adalah identikal dengan tolakan.
Dalam gejala-gejala listrik statik dan magnetisme, kita dapatkan suatu distribusi polar dari tarikan dan tolakan. Apapun hipotesis yang diterima mengenai modus operandi kedua bentuk ini, berdasarkan fakta tidak ada keraguan sedikitpun bahwa tarikan dan tolakan, sejauh-jauh mereka diproduksi/dihasilkan oleh listrik statik atau magnetisme dan mampu untuk berkembang tanpa halangan, mereka sepenuhnya saling mengompensasi (kompensasi) satu sama lain, sebagaimana nyata tidak-bisa-tidak disebabkan oleh sifat distribusi polar itu sendiri. Dua kutub yang kegiatan-kegiatannya tidak sepenuhnya saling mengompensasi satu sama lain memang bukan kutub-kutub, dan sejauh ini belum pernah dijumpai dalam alam. Untuk sementara kita tidak akan membicarakan galvanisme, karena dalam hal ini, prosesnya ditentukan oleh reaksi-reaksi kimiawi, yang menjadikannya semakin rumit. Karenanya, lebih baik kita meneliti proses-proses kimiawi dari gerak itu.
Manakala dua bagian berat hidrogen berpadu dengan 15,96 bagian berat oksigen untuk membentuk uap air, suatu jumlah panas sebanyak 68,924 satuan-panas dikembangkan selama proses itu. Sebaliknya, apabila 17,96 bagian berat uap air didekomposisikan menjadi dua bagian berat hidrogen dan 15,96 bagian berat oksigen, hal ini hanya mungkin dengan syarat bahwa uap air itu telah mengomunikasikan suatu jumlah gerak yang setara dengan 68,924 satuan-panas--baik itu dalam bentuk panas itu sendiri atau dalam bentuk gerak elektrikal. Dalam mayoritas terbesar kasus, gerak dilepaskan/terjadi pada perpaduan dan mesti disuplai pada dekomposisi. Juga di sini, lazimnya, tolakan merupakan segi aktif dari proses itu, yang lebih dibekali dengan gerak atau memerlukan suatu tambahan gerak, sedangkan tarikan merupakan segi pasif yang menghasilkan suatu surplus gerak dan melepaskan gerakan. Berdasar hal ini, teori modern juga menyatakan bahwa, dalam keseluruhannya, energi itu dibebaskan pada waktu (saat) perpaduan unsur- unsur dan menjadi tergabung pada saat dekomposisi. Di sini, karena itu, energi lagi-lagi berarti tolakan. Dan Helmholtz kembali menyatakan:
"Kekuatan ini (afinitas kimiawi) dapat difahami sebagai suatu kekuatan tarikan.... Kekuatan tarikan ini di antara atom-atom karbon dan oksigen melaksanakan pekerjaan sangat sama banyaknya seperti (dengan) yang dikerahkan pada suatu berat yang diangkat oleh bumi dalam bentuk gravitasi... Manakala atom-atom karbon dan oksigen saling menyerbu satu sama lain dan berpadu untuk membentuk asam karbonik, maka partikel-partikel asam karbonik yang baru terbentuk itu mesti berada dalam gerak molekular yang dahsyat, yaitu, dalam gerak panas.... Apabila kemudian mereka melepaskan panas mereka pada lingkungan, kita masih mendapati dalam asam karbonik itu semua karbon, semua oksigen, dan tambahan lagi afinitas dari keduanya terus berada/hidup dengan sama kuat-perkasanya seperti sebelumnya. Tetapi, afinitas ini kini menyatakan dirinya semata-mata dalam kenyataan bahwa atom-atom karbon dan oksigen lekat-rapat satu-sama-lain, dan tidak memperkenankan terpisahnya mereka kembali." (Helmholtz, ibid., hal. 169.)
Helmholtz berkukuh bahwa dalam ilmu kimia maupun dalam ilmu mekanika, kekuatan hanya ada dalam tarikan, dan karena itu menjadi tepat berlawanan dengan yang oleh para ahli fisika lainnya disebut energi dan yang identikal dengan tolakan.
Maka, kini tidak hanya terdapat dua bentuk dari dari tarikan dan tolakan yang sederhana, melainkan serangkaian/sederetan penuh anak-anak bentuk di mana pemutaran dan pelepasan proses gerak universal berlangsung di dalam oposisi tarikan dan tolakan. Namun, sama-sekali tidaklah hanya dalam pikiran kita beraneka-ragam bentuk penampilan ini difahami dalam ketunggalan ungkapan gerak. Sebaliknya, semuanya itu membuktikan diri dalam aksi bahwa mereka adalah bentuk-bentuk dari gerak yang satu dan sama dengan cara mereka beralih yang satu menjadi yang lainnya dalam keadaan-keadaan tertentu. Gerak massa-massa secara mekanikal beralih menjadi panas, menjadi listrik, menjadi magnetisme; panas dan listrik beralih menjadi dekomposisi kimiawi; kombinasi kimiawi pada gilirannya lagi melahirkan panas dan listrik dan, lewat yang tersebut terakhir, magnetisme; dan akhirnya, panas dan listrik kembali menghasilkan lebih banyak gerak massa-massa secara mekanikal. Selanjutnya, perubahan-perubahan ini terjadi sedemikian rupa sehingga sejumlah bentuk gerak tertentu selalu mempunyai suatu jumlah tertentu yang tepat-sama dari bentuk gerak yang lain. Selanjutnya, tidaklah peduli bentuk gerak yang mana menentukan satuan untuk mengukur jumlah gerak itu, apakah itu untuk mengukur gerak massa, panas, yang dinamakan kekuatan elektro-motive, atau gerak yang menjalani transformasi dalam proses-proses kimiawi.
Di sini kita bersandar pada teori "konservasi energi" yang ditegakkan oleh J.R. Mayer**) pada tahun 1842 dan kemudian disusun secara internasional dengan keberhasilan yang begitu cemerlang, dan kini kita mesti meneliti konsep-konsep fundamental yang dipakai dewasa ini oleh teori ini. Ini adalah konsep-konsep mengenai "kekuatan/daya," atau "energi," dan "kerja".
Telah ditunjukkan di atas, bahwa menurut pandangan modern, yang kini umumnya diterima, energi adalah istilah yang dipakai untuk tolakan, sedangkan Helmholtz lebih banyak memakai kata daya untuk menyatakan tarikan. Orang dapat menganggap ini suatu perbedaan formal yang tidak penting, sejauh tarikan dan tolakan itu saling mengompensasi satu sama lain di jagat raya, dan sesuai dengan itu persoalan segi mana dari hubungan itu yang dianggap sebagai positif dan yang mana sebagai yang negatif akan tampak sebagai hal yang tidak perlu dipersoalkan, sebagaimana itu sendiri tidaklah penting manakala absisae (abscissae) dihitung ke kanan atau ke kiri dari sebuah titik dalam suatu garis tertentu. Namun, hal ini sama sekali tidaklah demikian mutlaknya.
Karena, di sini kita tidak mempersoalkan--pertama-tama--alam semesta, tetapi gejala-gejala yang terjadi di atas bumi dan dikondisikan oleh tertentunya posisi bumi secara pasti di dalam sistem matahari (tata-surya), dan posisi sistem matahari dalam alam semesta. Namun, setiap saat, sistem matahari kita mengeluarkan kuantitas-kuantitas gerak secara luar-biasa besarnya ke ruang angkasa, dan--lagi pula--gerak dari suatu kualitas yang sangat tertentu, yaitu, panas matahari, yaitu tolakan. Tetapi bumi kita sendiri memungkinkan keberadaan kehidupan di atasnya hanya dikarenakan panas matahari, dan pada akhirnya, bumi pada gilirannya memancarkan panas matahari yang diterimanya ke ruang angkasa, setelah ia mengubah sebagaian dari panas ini menjadi bentuk-bentuk gerak yang lain. Karenanya, di dalam sistem matahari dan di atas segala-galanya di atas bumi, tarikan sudah sangat mengungguli (mengatasi) tolakan. Tanpa gerak tolakan yang dipancarkan pada kita dari matahari, semua gerak di atas bumi akan terhenti. Seandainya esok matahari itu menjadi dingin, maka tarikan di atas bumi akan tetap, dengan semua keadaan lainnya tetap sama, sebagaimana ia adanya sekarang. Seperti di muka, sebuah batu yang beratnya 100 kilogram, di manapun batu itu ditempatkan, akan tetap 100 kilogram beratnya. Tetapi gerak itu, baik yang dari massa-massa dan dari molekul-molekul dan atom-atom, akan sampai/menjadi yang akan kita anggap sebagai suatu perhentian. Maka dari itu, jelaslah bahwa bagi proses-proses yang terjadi dewasa ini di atas bumi, sama sekali bukan masalah yang tak-perlu-dihiraukan apakah tarikan atau tolakan difahami sebagai segi aktif dari gerak, dan karenanya sebagai "daya," atau "energi". Sebaliknya, dewasa ini di atas bumi, tarikan sudah menjadi pasif sepenuhnya dikarenakan kemantapannya yang lebih menentukan di atas tolakan; kita berhutang semua gerak aktif pada suplai tolakan dari matahari. Karena itu, aliran modern--bahkan apabila masih tetap tidak jelas mengenai sifat hubungan gerak--betapa-pun, dalam hal kenyataan dan bagi proses-proses terestrial, bahkan bagi seluruh sistem mathari, secara mutlak benar dalam memahami energi sebagai tolakan.
Istilah "energi" sama sekali tidak secara tepat mengungkapkan seluruh hubungan gerak, karena ia hanya mencakup satu aspek saja, yaitu aksinya tetapi penciptaannya tidak. Ia masih membuat seakan-akan "energi" itu sesuatu yang di luar (eksternal) materi, sesuatu yang ditanamkan ke dalamnya. Tetapi dalam segala keadaan ia lebih disukai/dipilih daripada ungkapan "daya".
Sebagaimana umumnya diakui (dari Hegel hingga Helmholtz), pengertian daya diderivasi dari kegiatan organisme manusia di dalam lingkungannya. Kita berbicara tentang kekuatan otot, mengenai daya angkat lengan, mengenai daya loncat kaki, mengenai daya cerna perut dan sistem intestinal, mengenai daya sensor syaraf-syaraf, mengenai daya secretori kelenjar-kelenjar, dsb. Dengan kata-kata lain, demi pengamanan karena mesti memberikan sebab sebenarnya sesuatu perubahan yang ditimbulkan oleh suatu fungsi organisme kita, kita menggantikannya dengan sebuah sebab karangan, sesuatu yang disebut daya yang bersesuaian dengan perubah-an itu. Kemudian kita alihkan metode yang memudahkan ini kepada dunia eksternal juga, dan dengan begitu membuat penemuan kekuatan-kekutan/daya-daya sebanyaki adanya beraneka-ragam gejala.
Pada masa Hegel, ilmu-pengetahuan alam (barangkali dengan pengecualian ilmu-mekanika langit dan bumi) masih berada dalam keadaan pandir (naive), dan Hegel dengan tepat sekali menyerang cara penunjukan (denotasi) daya-daya yang berlaku (pasase yang akan dikutib).51) Seperti itu pula dalam sebuah pasase lain:
"Adalah lebih baik (mengatakan) bahwa sebuah magnet mempunyai suatu roh" (sebagaimana Thales menyatakannya) "daripada bahwa ia mempunyai suatu daya tarikan; daya adalah semacam sifat yang, terpisahkan dari materi dikemukakan sebagai sebuah predikat --sedangkan roh, sebaliknya, adalah gerak ini sendiri, identikal dengan sifatnya materi." (Geschichte der Philosophie, I, hal. 208.)
Dewasa ini kita lagi menggampangkan persoalan daya-daya. Mari kita dengar Helmholtz:
"Apabila kita sepenuhnya mengenal sebuah hukum alam, kita juga mesti menuntut bahwa hukum itu mesti beroperasi tanpa pengecualian... Dengan demikian hukum berhadapan dengan kita sebagai suatu kekuatan objektif, dan bersesuaian dengan itu kita menamakannya suatu daya. Misalnya, kita mengobjektivikasi hukum refraksi cahaya sebagai suatu daya refraktif dari substansi-substansi transparan, hukum afinitas kimiawi sebagai suatu daya afinitas dari berbagai substansi satu-sama-lain. Begitulah kita berbicara mengenai daya elektrik dari kontak metal-metal, mengenai daya adhesi, daya kapilari, dan begitu seterusnya. Nama-nama ini mengobjektivikasi hukum-hukum yang terutama hanya mencakup suatu rangkaian terbatas proses-proses alamiah, yang kondisi-kondisinya masih rada-rada rumit.... Daya hanyalah hukum aksi yang diobjektivikasi.... Ide abstrak mengenai daya yang kita perkenalkan/ajukan hanya menambahkan bahwa kita tidak secara sewenang-swenang membuat penemuan hukum ini, melainkan bahwa ia adalah sebuah hukum gejala-gejala yang merupakan keharusan. Karena itu tuntutan kita untuk memahami gejala-gejala alam, yaitu, menemukan hukum-hukumnya, mengambil suatu bentuk ungkapan yang lain, yaitu, bahwa kita harus menemukan daya-daya yang menjadi sebab-sebab dari gejala-gejala itu." (Loc. cit., hal.189- 91. Ceramah Innsbruck tahun 1869.)
Pertama-tama, jelaslah suatu cara "objektivikasi" yang ganjil apabila pengertian mengenai daya yang semurninya subjektif itu dimasukkan ke dalam suatu hukum alam yang sudah ditegakkan sebagai bebas dari subjektivitas kita dan oleh karenanya sepenuhnya bersifat objektif. Paling-bantar seorang Hegelian-tua dari tipe yang paling tegar dapat memperkenankan hal seperti itu bagi dirinya, namun tidak bagi seorang Neo-Kantian seperti Helmholtz. Hukum itu, sekali ia telah dimantapkan, maupun objektivitasnya ataupun objektivitas aksinya, sedikitpun tidak memerlukan objektivitas baru dari/oleh kita dengan penginterpolasian suatu daya ke dalamnya; yang ditambahkan adalah anggapan subjektif kita bahwa ia bertindak berkat suatu daya yang sejauh ini sama sekali tidak dikenal/diketahui. Namun makna rahasia dari interpolasi ini segera tampak ketika Helmholtz memberikan contoh-contoh pada kita: refraksi cahaya, afinitas kimiawi, listrik kontak, adhesi, kapilaritas, dan mengangkat hukum-hukum yang menguasai gejala- gejala ini pada peringkat keningratan "objektif" sebagai daya-daya. "Nama-nama ini mengobjektivikasi hukum-hukum yang terutama hanya mencakup suatu rangkaian terbatas proses-proses alamiah, yang kondisi-kondisinya masih rada-rada rumit." Dan justru di sinilah "objektivikasi" itu, yang lebih bersifat subjektivikasi, memperoleh maknanya; tidak karena kita telah menjadi sepenuhnya mengenal hukum itu, melainkan justru karena tidak demikianlah kenyataannya. Justru karena kita belum jelas mengenai "kondisi-kondisi yang rada-rada rumit" dari gejala-gejala ini, kita sering mencari pelarian kita dalam kata daya itu. Dengan begitu kita tidak menyatakan pengetahuan kita, melainkan (justru) kekurangan/ketiadaan pengetahuan kita mengenai sifat hukum itu dan gaya aksinya. Dalam pengertian ini, sebagai suatu ungkapan singkat bagi suatu pertautan sambil-lalu yang masih belum dijelaskan, sebagai suatu ungkapan asal-jadi, ia mungkin lolos ke dalam pemakaian dewasa ini. Apapun saja daripada yang dari kebatilan. Dengan hak yang sama absahnya sebagaimana Helmholtz menjelaskan gejala-gejala fisikal dari apa yang dinamakan daya refraktif, daya kontak elektrikal, dsb., para skolastik abad-pertengahan menjelaskan perubahan-perubahan temperatur (suhu) melalui/dengan suatu vis calorifica dan vis frigifaciens dan dengan demikian mengamankan/menyelamatkan diri mereka dari semua penelitian lebih lanjut mengenai gejala-gejala panas.
Dan bahkan dalam arti ini ia sungguh malang, karena ia mengungkapkan segala sesuatu dengan cara yang berat-sebelah. Semua proses alam adalah bersegi-dua, mereka didasarkan pada hubungan setidak-tidaknya dua bagian operatif, aksi dan reaksi. Namun, pengertian daya, karena asal-usulnya dari aksi organisme manusia atas dunia eksternal, dan selanjutnya dari mekanika bumi, berarti bahwa hanya satu bagian yang aktif, operatir, sedangkan bagian lainnya adalah pasif, nerimo; karenanya ia menetapkan suatu perluasan perbedaan yang belum dapat diperagakan di antara jenis-jenis kelamin pada objek-objek mati (tidak hidup). Reaksi dari bagian kedua, yang padanya daya itu bekerja, paling-paling tampil sebagai suatu reaksi pasif, sebagai suatu tentangan. Nah, gaya konsepsi ini diperkenankan dalam sejumlah bidang, bahkan di luar mekanika murni, yaitu, di mana ia menjadi masalah pengalihan gerak secara sederhana dan penghitungan kuantitatifnya. Tetapi, dalam proses-proses fisikal yang lebih rumit, ia tidak mencukupi, sebagaimana dibuktikan oleh contoh-contoh Helmholtz sendiri. Daya refraktif itu sama kuatnya terletak dalam cahaya itu sendiri seperti dalam benda-benda transparan itu. Dalam hal adhesi dan kapilaritas, jelaslah bahwa "daya" itu sama kuatnya berada dalam permukaan yang padat seperti dalam permukaan yang cair. Bagaimanapun, dalam listrik kontak, halnya sudah jelas, yaitu, bahwa kedua metal menyumbang padanya, dan "afinitas kimiawi" juga berada--kalaupun di manapun--dalam kedua bagian yang memasuki perpaduan/penggabungan. Tetapi suatu daya yang terdiri atas dua daya yang terpisah, suatu aksi yang tidak menimbulkan reaksinya, tetapi yang mencakup dan menanggung ini di dalamnya sendiri, bukanlah daya dalam pengertian mekanika terestrial, satu-satunya ilmu-pengetahuan di mana seseorang sungguh-sungguh mengetahui apa yang dimaksudkan dengan suatu daya. Karena kondisi-kondisi pokok dari mekanika terestrial adalah, pertama-tama, penolakan untuk meneliti sebab-sebab dari impuls itu, yaitiu, sifat dari daya tertentu, dan, kedua, pandangan mengenai kebersegi-satunya daya, karena di mana-mana ia ditentang oleh suatu daya gravitasional yang identikal, sedemikian rupa sehingga dibandingkan dengan jarak jatuh terestrial yang manapun, maka jarak-tempuh (radius) bumi = "tak-terhingga".
Tetapi, mari kita lebih lanjut melihat bagaimana Helmholtz "mengobjektivikasi daya-dayanya" ke dalam hukum-hukum alam.
Dalam sebuah ceramah di tahun 1854 (loc. cit., hal.119)52) ia memeriksa simpanan daya kerja yang aslinya dikandung dalam nebula sferikal dari mana sistem matahari kita dibentuk.
"Sesungguhnya ia menerima suatu warisan yang luar-biasa besarnya dalam hal ini, sekalipun dalam bentuk daya tarikan umum dari semua bagiannya satu-sama-lain."
Hal ini tidak dapat disangkal. Tetapi adalah sama tidak-dapat-disangkal bahwa keseluruhan dari warisan gravitas atau gravitasi ini hadir tanpa berkurang di dalam sistem matahari sekarang, kecuali--barangkali-- kuantitas yang teramat kecil yang hilang bersama materi yang mungkin dilempar keluar secara tidak-terelakan ke ruang angkasa.
"Daya-daya kimiawi juga mesti sudah ada/hadir dan siap untuk beraksi/bertindak; tetapi, karena daya-daya ini hanya bisa menjadi efektif dalam kontak akrab berbagai jenis massa, maka kondensasi mesti terjadi sebelum mereka berperan." (hal. 120)
Apabila, seperti yang dilakukan Helmholtz di atas ini, kita memandang daya-daya kimiawi ini sebagai daya-daya afinitas, artinya sebagai tarikan, maka kembali kita mau-tak-mau mesti mengatakan bahwa jumlah-total daya-daya kimiawi dari tarikan ini masih ada tanpa berkurang di dalam sistem matahari.
Tetapi pada halaman yang sama, kepada kita Helmholtz memberikan sebagai hasil perhitungan-perhitungan,
"bahwa barangkali hanya 454-bagian dari daya mekanikal asli yang terdapat seperti itu"-- yaitu, dalam sistem matahari itu.
Bagaimana orang mesti mengartikan itu? Daya tarikan, baik yang umum maupun yang kimiawi, masih hadir tanpa gangguan apapun di dalam sistem matahari. Helmholtz tidak menyebutkan sumber tertentu lainnya dari daya itu. Bagaimanapun, menurut Helmholtz, daya-daya ini telah melakukan pekerjaan yang luar-biasa. Namun semuanya itu tidak berkurang ataupun bertambah karenanya. Seperti halnya dengan berat lonceng yang tersebut di atas, demikian pula dengan setiap molekul di dalam sistem matahari dan seluruh sistem matahari itu sendiri. "Beratnya tidak hilang ataupun berkurang." Yang terjadi dengan karbon dan oksigen sebagaimana yang disebutkan, berlaku pula bagi semua unsur kimiawi: jumlah kuantitas tertentu dari masing-masingnya tetap, dan "jumlah daya afinitas terus ada dengan sama kuatnya seperti pada waktu sebelumnya." Lalu, apakah yang telah hilang? Dan "daya" apakah yang telah melakukan kerja luar-biasa yang adalah 453 kali lebih besar daripada yang, menurut perhitungannya, masih mampu dilakukan oleh sistem matahari itu? Hingga di sini Helmholtz tidak memberikan jawaban. Namun lebih lanjut ia mengatakan:
"Apakah [dalam nebula sferikal asli] suatu _cadangan daya dalam bentuk panas _masih hadir, kita tidak tahu."
Tetapi, jika kita diperkenankan menyebutkannya, panas itu adalah suatu "daya" tolakan, karenanya ia bertindak berlawanan dengan tarikan gravitasi maupun kimiawi, yaitu berarti minus apabila ini ditempatkan sebagai plus. Maka apabila, menurut Helmholtz, cadangan daya asli itu terdiri atas tarikan umum dan kimiawi, suatu cadangan panas ekstra mestilah, tidak ditambahkan pada cadangan daya itu, melainkan ditarik/dikurangi darinya. Jika tidak demikian halnya maka panas matahari mestilah memperkuat daya tarikan bumi apanbila ia menyebabkan air meng-uap ke arah lawan tarisan ini, dan uap air itu naik; atau panas sebuah pipa (tube) besi pijar yang dilalui uap akan memperkuat tarikan kimiawi oksigen dan hidrogen, yang membuatnya tidak beraksi. Atau, untuk membuat jelas hal yang sama itu dalam suatu bentuk lain: mari kita menganggap bahwa nebul sferikal dengan radius r, dan karenanya dengan volume 4/3 o r?mempunyai suatu suhu t. Selanjutnya mari kita anggap sebuah nebul sferikal kedua dari massa yang sama pada suhu lebih tinggi T mempunyai radius R yang lebih b esar dan volume 4/3 o r? Kini menjadi jelas bahwa dalam nebula kedua, tarika n itu, baik yang mekanikal maupun yang fisikal dan kimiawi, dapat bertindak dengan daya yang sama seperti pada nebula pertama ketika ia mengkeret dari radius R menjadi radius r, yaitu, ketika ia telah memancarkan panas itu ke angkasa sesuai dengan perbedaan suhu T-t. Suatu nebula yang lebih panas oleh karenanya berkondensasi lebih lambat/belakangan daripada nebula yang lebih dingin; Dan sebagai konsekuensinya, panas itu, yang dari pendirian Helmholtz dipandang sebagai suatu rintangan bagi kondensasi, bukanlah suiatu plus melainkan suatu minus dari "cadangan daya." Helmholtz, dengan mengan daikan kemungkinan sejumlah gerak tolakan dalam bentuk panas menjadi ditambahkan pada bentuk-bentuk gerak tarikan, jelas-jelas melakukan suatu kesalahan perhitungan.
Sekarang, mari kita tempat keseluruhan dari "cadangan daya" ini, yang mungkin maupun yang dapat didemon strasikan, di bawah tanda matematikal yhang sama sehingga suatu tambahan menjadi mungkin. Karena sementara ini kita tidak dapat membalikkan panmas dan menggantikan tolakannya dengan t arikan setara, kita terpaksa melaksanakan pembalikan ini dengan kedua bentuk tarikan. Kemudian, gantinya daya tarikjan umum, gantinya afinitas kimiawi, dan gantinya panas, yang lagipula mungkin sudah ada sejak awal, kita cuma mesti menempatkan jumlah gerak tolakan atau yang disebut energi yang terdapat di dalam sfera serba-gas pada saat ia menjadi bebas. Dan dengan melakukan hal itu maka perhitungan Helmholtz juga menjadi sahih, dalam hal ia bermaksud memperhitungkan "pemanasan yang mesti lahir dari perkiraan kondensasi awal benda-benda langit dari sistem kita dari materi serba-nebula yang berserakan." Dengan mereduksikan seluruh "cadangan daya" pada panas, tolakan, ia juga membuatnya mungkin untuk menambah pada perkiraan cadangan daya panas itu. Perhitungan itu kemudian menyatakan bahwa 453/454 dari semuya energi, yaitu tolakan, yang aslinya terdapat di dalam sfera serba-gas telah diradiasikan/dipancarkan ke angkasa dalam bentuk panas, atau, agar lebih tepatnya, bahwa jumlah dari semua tarikan dalam sistem matahari sekarang dalam hubungannya dengan jumlah semua tolakan, masih terdapat di dalam yang sama, yaitu 454:1. Tetapi ia dengan demikian secara langsung mengingkari teks ceramah yang kepadanya hal itu ditambahkan sebagai bukti.
Maka, apabila pengertian daya, bahkan dalam kasus seorang ahli fisika seperti Helmholtz, menimbulkan kekacauan gagasan seperti itu, ini merupakan bukti paling kuat bahwa ia sama sekali tidak mempan bagi penggunaan ilmiah di semua cabang penelitian yang melampaui ilmu mekanika matematikal. Dalam ilmu mekanika sebab-sebab gerak dianggap tertentu dan asal-usulnya tidak dipandang, hanya efek-efeknya yang diperhitungkan. Maka, apabila suatu sebab dari gerak diistilahkan suatu daya, ini tidak mengganggu ilmu mekanika sendiri; tetapi telah menjadi kebiasaan untuk mengalihkan istilah ini juga pada ilmu fisika, kimia, dan biologi, dan kemudian kekacauan itu menjadi tidak terelakkan. Kita sudah melihat hal ini dan kelak akan acapkali menyaksikannya lagi.
Untuk konsep mengenai kerja, lihat bab berikutnya.
Catatan:
*) Pada bagian tepi manuskrip itu tertulis catatan berikut ini dengan pensil: "Kant (mengatakan), halaman 22, bahwa ketiga dimensi ruang itu bergantung pada kenyataan bahwa tarikan atau tolakan ini terjadi dalam proporsi terbalik dengan kwadrat (hasil perkalian) jarak itu."47)
**) Helmholtz, dalam Pop. Vortr., 50)_II, hal. 113, agaknya telah menjulukkan sebagian tertentu dari bukti ilmiah-alam dari azas Descartes mengenai kekekalan (immutability) gerak secara kuantitatif pada dirinya sendiri maupun pada Mayer dan Colding. "Aku sendiri, tanpa mengetahui sedikitpun akan Mayer dan Colding, dan hanya berkenalan dengan eksperimen-eksperimen Joule pada akhir karyaku, telah menempuh jalan yang sama; aku menyibukkan diriku terutama dengan menyelidiki semua hubungan antara berbagai proses alam yang dapat dideduksi dari gaya pertimbangan tertentu, dan aku mengumumkan penelitian-penelitianku pada tahun 1847 dalam sebuah karya kecil yang berjudul Über die Erhaltung der Kraft."--Tetapi, dalam karya itu tidak dijumpai yang baru bagi posisi itu pada tahun 1847 kecuali perkembangan tersebut di atas, yang secara matematikal sangat berharga, bahwa "konservasi daya" dan aksi sentral dari kekuatan-kekuatan yang aktif di antara berbagai benda sesuatu sistem hanyalah dua ungkapan yang berbeda dari hal yang sama, dan lebih jauh suatu perumusan yang lebih cermat mengenai hukum bahwa jumlah dari tenaga-tenaga yang hidup dan tensional dalam sesuatu sistem mekanikal tertentu adalah konstan. Dalam semua hal lainnya ia sudah didahului sejak makalah kedua Mayer di tahun 1845. Pada tahun 1842 Mayer sudah menyatakan mengenai "tidak-dapat-hancurnya kekuatan/daya," dan dari pendirian barunya pada tahun 1845 ia sudah berbicara tentang hal-hal yang jauh lebih cemerlang mengenai "hubungan-hubungan antara berbagai proses alam" daripada yang diungkapkan Helmholtz pada tahun 1847.
Alih bahasa: Ira Iramanto


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar