Rabu, 06 Juni 2012

RAGAM METODE FILSAFAT


Istilah metode berasal dari bahasa yunani methodeuo yang berarti mengikuti jejak atau mengusuk, menyelidiki dan meneliti yang berasal dari kata methodos dari akar kata meta (dengan ) dan hodos (jalan ). Dalam hubungan dengan suatu upaya yang bersifat ilmiah,
metode berarti cara kerja yang teratur dan sistematis yang digunakan untuk memahami suatu objek yang di permasalahkan, yang merupakan sasaran dari ilmu tertentu.

Metode tidak sekedar menyusun dan menghubungkan bagian-bagian pemikiran yang terpisah-pisah, melainkan juga alat yang paling utama dalam proses dan perkembangan ilmu pengetahuan sejak dari awal dari suatu penelitian hingga mencapai pemahaman baru dan kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Metode yang tepat dan benar akan menjamian kebenaran nyang diraih.

Oleh karena itu, setiap cabang ilmu pengetahuan harusa mengembangkan metodelogi yang sesuai dengan objek studi ilmu pengetahuan itu sendiri. Ini merupakan suatu keharusan karena sesungguhnya tidak ada suatu metode yang cocok bagi semua bidang ilmu pengetahuan.

Sehubungan derngan itu, fuad hassan dan koentjoroningkrat memperingatkan:

….. Bahwa suatu metode dipilih dengan memepertimbangakan kesesuaiannya dengan objek studi; kecenderungan untuk menempuh jalan sebaliknya ( yaitu untuk mencocok-cocokan objek studi dengan metodik yang asal-asal saja ) sesungguhnya keliru.Catatan ini ditambahkan disini khususnya karena adanya kecenderungan yang kuat untuk mengagungkan kuantifikasi terhadap berbagai gejala yang sesungguhnya sukar diukur.

Dengan demikian, setiap disiplin ilmu seyogyanya memiliki metode sendiri, namun harus segera ditegaskan pula bahwa filsafat sesungguhnya tidak memiliki metode tunggal yang digunakan oleh semua filusuf sejak saman purba hingga sekarang ini. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pada bidang filsafat, jumlah filsafat ( demikian juga jumlah metode filsafatnya ) adalah sebanyak jumlah filsafatnya. Dengan kata lain, sangat banyak metode filusuf yang digunakan oleh para filusuf dari dahulu sampai sekarang ini.

Metode – metode filsafat yang dibicarakan berikut ini adalah metode-metode yang pernah dikembangkan sepanjang sejarah filsafat, teristimewa yang memiliki pengaruh cukup kuat bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan pada umumnya. 

METODE ZENO: REDUCTIO AD ABSURDUM

Zono adalah seorang murid perminides yang termasyhur, yang terkenal sebagi filusuf metafisika barat yang pertama. Zeno lahir di Elea pada tahun 490 SM. Ia sangat cerdas, dan kecerdasannya begitu mengagumkan banyak orang, termasuk para penguasa, sehingga sama seperti gurunya ia memiliki pengaruh besar dalam kehidupan  politik kota Elea. Sejak usia muda, ia telah menulis buku-buku yang terkenal, tetapi sayang semuanya hilang. Kemasyurannya bukan hanya diakui oleh Plato, melainkan juga oleh aristoteles, murid plato yang hidup seratus tahun sesudah zeno. Aristoteles mengatakan bahwa dialektika, selaku cabang logika yang mempersoalkan argumentasi berdasarkan hipotesis yang dikemukakan oleh lawan bicara, sesungguh nya ditemukan oleh zeno. Memang, zeno dikenal sebagai seorang pemikir jenius yang berhasil mengembangkan metode untuk menemukan kebenaran, dengan membuktikan kesalahan-kesalahan premis lawan, yang caranya ialah mereduksikannya menjadi suatu kontradiksi sehingga konklusinya pun menjadi mustahil (reductio ad absurdum).
Zeno sependapat dengan permenides yang mengatakan bahwa realitas yang sesungguhnya didalam semesta ini hanya satu. Untuk mempertahankan monisme dari serangan pluralisme, dengan metode reduktio ad absurdum Zeno mengatakan bahwa seandainya ada banyak titik yang terdapat diantara titik A dan B, berarti kita juga harus mengakui adanya suatu jumlah tak terbatas karena akan senantiasa terdaat titik diantara titik-titik itu, dan demikian seterusnya. Jika banyaknya titik itu tak terbatas, jarak yang tak terbatas antara A dan B tidak mungkin dapat terlintasi. Akan tetapi, ternyata orang dapat berjalan dari A ke B, dan itu berarti bahwa jarak A ke B dapat dilintasi. Jika jarak A ke B dapat dilintasi, pastilalah jarak A ke B itu tidak terbatas. Oleh kerena itu, hipotesis semula, yang menyatakan bahwa ada banyak titik yang terdapat diantara titik A  dan B adalah tidak benar. Jadi, jelas bahwa pluralitas itu absurd, tidak masuk akal dan mustahil.
Parmenides juga pernah mengatakan bahwa tidak ada ruang kosong, yang berarti bahwa yang ada tidak berada dalam ada yang lain karena yang ada senantiasa mengisi seluruh tempat. Untuk membuktikan kata-kata gurunya itu, Zeno mengatakan bahwa seandainya ada ruang kosong, ruang kosong itu berada dalam ruang kosong yang lain dan ruang yang kosong itu berada dalam ruang yang kosong pula dan dimikian seterusnya tidak terbatas. Itu berarti senantiasa ada ruang didalam ruang. Oleh karena itu, jika dikatakan yang ada berada dalam ada yang lain, jelaslah bahwa pernyataan itu tidak benar. Yang benar adalah yang ada tidak berada dalam ada yang lain. Tegasnya, ruang kosong itu tidak mungkin berada dalam ruang kosong yang lain karena yang ada itu senantiasa mengisi seluruh tempat sehingga hipotesis yang mengatakan bahwa ruang kosong itu ada merupakan sesuatu yang absurd.
Permanides pun pernah mengatakan bhawa jika ruang kosong itu tidak ada, berarti bahwa gerak pun tidak ada. Ini karena jika dikatakan bahwa gerak itu ada, berarti ruang kosong pun harus ada karena gerak hanya mungkin terjadi apabila ada ruang kosong. Untuk membuktikan kebenaran ajaran gurunya itu, Zeno mengemukakan empat contoh sebagai berikut:
  1. Dikotomi paradoks. Zeno mengatakan bahwa apabilaada ruang kosong yang membuat sutujarak tertantu, sesungguhnya jarak itu tidak terbatas. Jarak itu tak terbatas karena dapat dibagi lagi kedalam jarak-jarak tertentu yang juga tak terbatas jumlahnya karena jarak-jarak tertantu itu pun masih dapat dibagi lagi ke dalam titik yang tidak ada habis-habisnya. Jika memang ada gerak, pelaku gerak yang hendak menempuh suatu jarak terlebih dahulu harus menempuh setengah jarak dari jarak itu sehingga ketitik-titik yang tak terbatas, sehingga tentu saja si pelaku gerak itu tidakkan pernah sampai di garis akhir dari jarak yanng hendak ditempuhnya. Jika demikian, sesungguhnya gerak itu merupakan suatu yang absurd.
  2. Akhilles, si juara lari. Apabila Akhilles, sijuara lari dalam mitologi yunani, hendak bertanding lari dengan seekor kura-kura yang ditempatkan dalam jarak tertentu di depan akhilles, kendati akhilles dapat gerlari bagaikan kilat, ia rtidak pernah dapat menyusul, apalagi melewati kura-kura itu. Kura-kura itu senantiasa berada didepan Akhilles. Karena seandainya akhilles dapat mengayunkan dua puluh langkah ketika kura-kura mengayunkan satu langkah, maka sesudah Akhilles mengayungkan dua puluh langka, si kura-kura telah berada satu langkah didepan Akhilles. Jikalau Akhilles terus maju dua puluh langkah lagi, si kura-kura telah berada seperdua puluh langkah di depan Akhilles dan demikian seterusnya sampai tak terhingga. Jadi Akhilles tidak akan pernah dapat mengejar kura-kura itu. Dengan demikian, gerak itu merupakan suatu yang absurd.
  3. Anak panah. Apabila sebuah anak panah dilemparkan dari busurnya, apakah anak panah itu benar bergerak? Yang terjadi ialah bahwa pada setiap anak panah itu berada ditempat anak panah itu sedang berada. Di setiap tempat anak panah itu berada, sesungguhnya anak panah itu sedang berhenti dan diam di situ. Jadi, jelas bahwa setiap saat anak panah itu berada di tempat tertentu dalam keadaan diam. Apakah berdiamnya anak panah de setiap tempat tertentu merupakan suatu gerak? Jika benar demikian, apa yang disewbut gerak itu tidak lain daripada rangkaian diam di tempat. Lalu, benarkahyang diam itu bergerak? Oleh karena itu, sesungguhnya gerak merupakan sesuatu yang absurd.
  4. Benda yang bergerak bertentangan. Kondisi ini terjadi apabila dua benda padat yang sangat kecil memiliki ukuran sama dan bergerak dalam kecepatan sama dengan debngan arah yang saling bertentangan; di samping itu, ada lagi benda yang sama berada dalam keadaan diam. Kedua benda yang bergerak itu akan melewati benda yang tidak bergerak dalam suatu unit waktu yang minimum. Kedua benda yang bergerak itu akan saling berpapasan dalam waktu yang lebih singkat daripada unik waktu yang minimum tersebut. Akan tetapi, kedua-duanya merupakan unit waktu yang minimum sehingga dapat disimpulkan bahwa yang setengah sama dengan yang satu. Oleh sebab itu gerak adalah sesuatu yang absurd.

Metode Zeno memberi nilai abadi bagi filsafat karena memang tidak tidak satupun pernyataan yang melahirkan pertentangan dapat dianggap benar. Hukum tiada pertentangan (the low of non-controdiction) merupakan salah satu prinsip fundamental dalam logika. Metode yang dikembangkan oleh Zeno sangat berguna dalam suatu perdebatan karena dengan metode itu ia telah memberi dasar yang kokoh bagi argumentasi-argumentasi yang rasional dan logis. Zeno juga dikenal sebagai orang yang pertama menggunakan metode dialektik, dalam arti mencari kebenaran lewat perdebatan atau bersoal jawab secara sistematis.       
METODE SOKRATES: MAIEUTIK DIALEKTIS KRITIS INDUKTIF

Kendati Sokrates (470-399 SM) dianggap sebagai salah seorang filusuf besar sepanjang zaman, pada kenyataannya ia tidak pernah menulis sesuatu apapun juga sehingga tidak seorangpun dapat memaparkan pemikiran-pemikiran Sokrates berdasarkan hasil karya tulisannya sendiri Sokratyes hanya dikenal lewat berbagai karya tulis murid-muridnya, yakni Aristophanes, Xenophon, Plato, dan karya tulis murid Plato, Aristoteles. Ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan Sokrates yang ditampilkan oleh keempat orang itupun tak begitu jelas dan begitu lengkap.
Ada beberapa ahli yang menekankan bahwa tulisan-tulisan Xenophon tentang sokrates dapat dijadikan sumber informasi utama, namun ada juga yang mengatakan bahwa tulisan-tulisan plato dan Aristoteles adalah sumber utama yang paling dapat diandalkan untuk mengenal sokrates. Saat ini, pada umumnya para ahli menggunakan keempat sumber yang tersedia itu, namun ada kesepakatan bersama yang menunjukan bahwa pemikaran-pemikiran Sokrates hampir lengkap ditemukan lewat berbagai karya tulis plato, teristimewa dalam dialog-dialog yang pertama, yang disebut sebagai dialog-dialog sokratik. Dari dialog-dialog tersebut memang harus diakui bahwa betapa sulitnya membedakan mana yang merupakan gagasan pemikiran sokrates yang murni dan mana yang merupakan gagasan dan pemikiran Plato. Yang jelas adal;ah plato, yang begitu mengaguimi sokrates, hendak mengabadikan gurunya itu lewat dialog-dialognya, sehingga lewat dialog-dialognya ynag pertama Plato berupaya menampilkanb Sokrates. Baru kemudian dalam dialog-dialog yang ditulisnya usia lebih lanjut, Plato mulai  mengembangkan pemikiran dan gagasannya sendiri.
Lewat berbagai karya tulis Plato, yang terlihat jelas ialah bahwa pemikiran-pemikiran Sokrates terpusat pada manusia. Dengan kata lain, manusia menjadi titik perhatian paling utama dalam filsafat sokrates. Sambil menempatkan manusia di pusat perhatian filsafatnya, Sokratres berangkat dari kehidupan sehari-hari yang konkrit. Sokrates menolak subjektivisme dan relativisme dari kaum sofis yang menyebabkan timbulnya skeptisisme. Bagi Sokrates, kebenaran objektif yang hendaknya dicapai bukanlah semata-mata untuk membangun suatu ilmu pengetahuan terotis yang abstrak, tetapi justru untuk meraih kebijakan karena, menurut sokrates, filsafat adalah upaya untuk mencapai kebijakan. Kebijakan itu harus tampak lewat perilaku manusia yang pantas, yang baik dan terpuji. Kebijakan mengantar manusia ke gerbang kebahagian sejati. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa siapa mengetahui dan oleh sebab itu memiliki kebenaran objektif dan bertingkah laku sesuai dengan kebenaran objektif itu, merekalah y6ang da[at mencepai kebenaran sesungguhnya.
Untuk mencapai kebenran objektif itu, sokrates menggunakan suatu metode yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang amat erat digenggamnya. Sokrates begitu yakin bahwa pengetahuan akan kebenaran objektif itu tersimpan dalam jiwa setiap orang sejak masa praeksistensinya. Karena itu, Sokrates tidak pernah mengajar tentang kebenaran itu, melainkan berupaya menolong untuk mengungkapkan apa yang memang ada dan tersimpamn di dalam jiwa seseorang. Sokrates mengatakan bahwa seperti apa yang dilakukan oleh ibunya,yang sering menolong orang melahirkan ( ibunya seorang bidang ), demikianlah pula yang dilakukannya. Ia menolong orang untuk “melahirkan” pengetahuan kebenaran yang dikandung oleh jiwanya. Sokrates merasa terpanggil untuk melakukan tugas yang mirip dengantugas ibunya itu, maka cara yang digunakannya pun disebutnya maieutika tekhne (teknik kebidanan)
Sokrates memperaktekan teknik kebidanan itu lewat percakapan.Sokrates senantiasa menggunakan setiap kesempatan untuk berdialog dengan siapa saja yang berjumpa dengan dia. Lewat pertcakapan demikian itulah ia melihat dengan jelas adanya kebenaran-kebenaran individual yang ternyata bersipat universal. Dengan demikian, ia telah memperkokoh dasar berfikit induktif yang kemudian akan kembangkan oleh para pemikir lainnya.
Dalam dialog-dialog yang dilakukannya, Sokrates melibatkan diri secara aktif dengan menggunakan argumentasi rasional yang didukung oleh analisis yang cermat tentang apa saja, dalam menunjukian perbedaan, pertentangan, penolakan, menyaring, membersihkan, serta menjelaskan keyakinan dan pendapat demi lahirnya kebenaran objektif. Lewat dialog-dialog kritis serupa itulah, Sokrates berupaya mengiring orang untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya.
Karena sokrates selalu mengasjak orang untuk bercakap-cakap. Metode yang digunaknnya itu disebut metode dialektik. Istilah dialektika berasal dari kata kerja yunani dialegesthai, yang berarti bercakap-cakap. Kata dialektik sdalam ungkapan metode dialektik Sokrates memiliki arti yang sangat dekat dengan arti harfiah kata yunani tersebut. Ada pula yang menyebut metode dialektik sebagai metode intorogasi (interrogation method). Kendati metode dialektik bukanlah ciptaan sokrates, dapat dikatakan Sokrates yang memperaktekan dan mengembangkan metode tersebut dengan baik.

METODE PLATO: DEDUKTIF SPEKULATIF TRANSENDENTAL

Seberanya dapat dikatakan bahwa metode Soktares adalah juga metode Plato. Akan tetapi, cukup banyak ahli yang menganggap bahwa Plato jauh melampaui Saokrates dalam filsafat. Memang, Plato ingin mengabdikan gagasan dan pemikiran gurunyayang amat dikasihinya, tetapi tidak berarti bahwa Plato tidak memiuliki gagasan dan peikiran yang orosinil. Bahkan, ada yang menganggap bahwa Plato meminjam nama Soktares  untuk mengabadikan gagasan dan pemikiranya sendiri. Yang pasti, Sokrates adalah Sokrates dan Plato adalah Plato.
Jika Soktates memusatkan perhatiannya pada persoalan manusia, Khususnya masalah-masalah etis, Plato memusatkanperhatriannya pada bidang yang amat luas, yaitu mencangjup seluruih ilmu pengetahuan. Dari berbagai ilmum pengetahuanyang diminatinya itu, eksaktalah yang memeperoleh tempat yang istinewa. Kaena itu tidak heranlah apabila Plato ikut serta dalam menetapkan dasar bagi penalaran deduktif yang terlihat jelas lewat argumentasi-argumantasi deduktif yang amat cermat dan sistematis.
Pada umumya para ahli membagi dialog-dialog Plato kedalam tiga priode:
  1. Priode dialog-dialog awal, disebut juga sebagi peride penyelidikan (inquiri);
2.   Priode dialog-dialog pertengahan, disebut juga sebagai prode spekulasi/pemikiran (speculation);
  1. priode dialog-dialog akhir, disebut juga sebagai prode kritisisme, penilaian, dan aplikasi (critisem, apparasial, and application).

Dalam dialog-dialog awal, khususnya Hippias,Gorgias,Protagoras, Euthydemus, Meno, minor, dan Cleitophon, Plato menyanggah para sofis yang menolak spekulasi, sains, teori etika dan tradisi.
Dalam dialog-dialog pertengahan terlihat berkembang suatu filsafat sistematis. Hasil-hasil pemikiran yang begitu abstrakmelahirkan teori-teori yangdituangkan kedalam enam tema pokok, yaitu:
  1. Teori tentang bentuk-bentuk ( the theory of forms ), yang dikenal juga sebagai teori tentang ide-ide;
  2. Sifat cinta ( The nature of Love )
  3. Metode Dialektika ( The methode of Dialectic );
  4. Bentuk atau ide tentang Kebaikan ( The form of Good )
  5. Sifat jiwa ( The Nature of saul );
  6. Masyarakat Ideal ( The Ideal society ).

Memperhatikan keenam teori tersebut diatas, tepatlah apabila dikatakan bahwa periode dialog-dialog pertengahan disebut sebagai periode spekulasi. Adapun dialog dialog pada periode akhir merupakan suatu upaya untuk mengaplikasikan secara rinci sistem spekulatif yang agung itu (detailed aplication of the great speculative system).
Inti dan dasar seluruh filsafat Plato ialah ajaran tentang ide-ide. Plato percaya abahwa ide yang terungkap oleh pikiran lebih nyata daripada objek-objek material yang terlihat oleh mata. Keberadaan bunga, pohon, burung, manusia, dan sebagainya bisa berubah-ubah dan akan berakhir. Adapun ide tentang bunga, pohon, burung dan manusia tidak akan berubah dan kekal adanya. Karena itu, hanya ide yang merupakan realitas yang sesungguhnya dan abadi. Dunia indrawi adalah suatu realitas yangtidak tetap dan berubah-ubah, dan ituylah yang dihadapim manusia hic et nunc. Adapun dunia ide suatu realitas yang tidak bisa dilihat, dirasa, dan didengar, dunia yang benar-benar objektif dan diluar pengalaman manusia. Apa yang disebut pengatahuan sebenarnya hanya merupakan ingatan terhadap apa yang telah diketahuinya di dunia ide konon sebelum berada di dunia indrawi, manusia pernah berdiam di dunia ide. Jelas bahwa dunia ide itu berada diluar pengalaman manusia di dunia, mengatasi realitas yang tampak, dan keberadaannya terlepas dari dunia indrawi. Karena itu, sistem permikiran Plato bersifat transendental. Karena itu pula, secara menyeluruh dapat dikatakan metode filsafat Plato adalah metode deduktif spekulatif transendental. 

METODE ARISTOTELES: SILOGISTIS DEDUKTIF

Aristoteles (384-322 SM) mengatakan bahwa ad dua metode yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru. Kedua metode ini disebut metode induktif dan deduktif. Induksi (epagogi) ialah cara menarik konklusi yang bersifat umum dari hal-hal yang khusus. Adapun deduksi (apodiktik) ialah cara menarik konklusi berdasarkan dua kebenaran yang pasti dan tidak diragukan, yang bertolak dari sifat umum ke khusus. Indsuksi berangkat dari pengamatan dan pengetahuan indrawi yang  berdasarkan pengalaman, sedangkan deduksi sebaliknya terlepas dari pengamatan dan pengetahuan indrawi yang berdasarkanpengalaman itu.
Sebenarnya Aristoteles menerima baik induksi maupun deduksi, akan tetapi dikenal sebagi filusuf barat pertama yang secara rinci dan sistematis mneyusun ketentuan-ketentuan dalam penalaran deduktif,. Ia senantiasa dihubungkan dengan pengalaman deduktif.
Baik induksi maupun deduksi di paparkan oleh aristoteles di dalam logika. Tidak dapat disangkal bahwa logika adalah salah satu karya filsafati besar yang dihasilkan oleh Aristoteles, yang menyebabkan ia sering disebut sebagai pelopor, penemu, atau bapak logika kendati itu tidak berarti sebelum Aristoteles belum ada logika.
Sebenarnya istilah logika tidak pernah digunakan oleh Aristoteles. Untuk meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi-proposisi yang benar, dipakainya istilah analitika. Asapun untuk untuk meneliuti berbagai argumentasi-argumenatsi yang bertolak dari dari proposisi-proposisi yang diragukan kebenarannya, dipakainya istilah dialektika. Logika sebagaimana dalam arti yang kita kenal sekarang mulai digunakan oleh Alexander Aphodisisas pada awal abad ke-3 SM.
Inti logika adalah siligisme, dan silogisme sebagai suatu alat dan mekanisme penalaran untuk menarik konklusi yang benar berdasarkan premis-premis yang benar adalah suatu bentuk formal dan penalaran deduktif. Bagi Aristoteles, deduksi merupakan metode terbaik untuk memperoleh konklusi demi meraih pengetahuan dan kebenaran baru. Itulah sebabnya mengapa metode Aristoteles disebut metode silogistis deduktif.
Silogisme adalah penemuan Aristoteles yang murni dan terbesarb dalam logika. Aristoteles tidak menggunakan silogisme semata-mata untuk menyusun argumentasi-argumentasi bagi suatu perdebatan, namun terutama sebagai metode dasar bagi pengembangan suatu bidang ilmu pengetahuan. Karena itu, Aristoteles tidak memasukkan logika keda;lam salah satu kelomok dari ketiga kelompokmenurut pembagian ilmu pengetahuan yang disusunnya.
Silogisme sebagai suatu bentuk formal dari deduksi, terdiri atas tiga proposisi. Proposisi pertama dan proposisi kedua disebut sebagai premis, sedangkan proposisi ketiga disebut sebagai konklusi yang ditarik dari proposisi pertama dengan bantuan proposisi kedua. Jadi setiap silogisme terdiri atas dua premis dan satu konklusi. Tiap-tiap proposisi itu harus memiliki dua term. Jadi setiap silogisme harus memiliki enam term. Akan tetapi, dalam setiap terma dalam suatu silogisme senantiasa disebut dua kali, sebenarnya dalam setiap silogisme hanya terdap tiga term. Apabila proposisi yang ketiga, yaitu proposisi yang disebut konklusi, diperhatikan dengan seksama, pada proposisi ketiga itu terdapat dua term dari ketiga term yang disebut tadi. Yang menjadi subjek konklusi disebut term minor, dan yang menjadi predikat konklusi disebut term mayor. Term yang terdapat pad kedua proposisi disebut terma tengah (terminus medius).
Berikut ini contoh silogisme:
Semua anjing adalah hewan berkaki empat.
Si hitam adalah seekor anjing.
Si hitam adalah hewan berkaki empat.

Pola kerja yang ditempuh dalam penalaran silogistis-deduktif adalah sebagi berikut. Pertama-tama, ditetapkan suatu kebenaran universal dan kemudian menjabarkannya pada hal-hal yang khusus. Dengan kata lain, sesudahsuatu ketentuan umum yang ditetapkan, barulah kemudian berdasarkan ketentuan umum itu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus atas kasus tertentu.
Immanuel kant mengatakan bahwa logika yang diciptakan oleh Aristoteles sejak semula sudah begitu sempurna sehiongga tidak mungkin bertambah sedikit pun. Kendati demikian, perlu juga diperhatikan kecaman betrand Russell yang mengatakan:

“Aristoteles bersikeras mengatakan bahwa wanita mempunyai gigi yang lerbih sedikit daripada pria, padahal kendati dia pernah dua kali kawin, tidak pernah terlintas dibenaknya untuk menguji pendapatnya dengan meneliti mulut-mulut istrinya itu.”

Tentu saja itu tidak berarti mengecilkan jasa Aristoteles yang harus diakui memang luar biasa bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
  
METODE PLOTINOS: KONTEMPALTIF – MISTIS

Plotinos (205-270) adalah seorang filusuf neoplatonis.       
   
     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar