Memilih "Kiai Makshum"
Kalau
begitu Anda sering dong, bersilaturahim ke para kiai? Bagaimana Anda menyaring
sebegitu banyaknya macam kiai. Misalnya, bagaimana cara Anda memilih antara
"kiai makshum" dengan "kiai kadonyan"?
Tidak
ada kiai yang ma'shum. Hanya Nabi yang ma'shum. Yang ada paling kiai konsisten,
lumayan konsisten, kurang konsisten, tidak konsisten, atau tidk ada kaitannya
dengan konsisten atau tidak.
Baiklah.
Ini soal "ingin" dulu ya. Sudah hampir tidak ada orang yang percaya,
bahwa ada manusia yang tidak berkeinginan. Tidak hanya ingin rujak, ingin soto,
tapi yang lebih besar dari itu. Tidak ingin jadi bupati, presiden, tidak ingin
kaya, tidak ingin kaya.
Masalahnya begini, sekarang kalau Anda hitung secara matematik, kalau kita berkeinginan, kalau manusia berkeinginan,kan belum tentu tercapai. Kalau Tuhan berkeinginan
pasti akan tercapai. Kita ada ini kan
yang menjadi dasar adalah keinginan Tuhan, iradah Allah, maka kita ada. Tuhan
menginginkan kita tidak sekadar ada saja, tetapi menjadi, mempunyai, ke mana,
kenapa dan lain sebagainya. Lengkap. Seperti juga kalau kita merumuskan seperti
itu. Tapi sekali lagi kalau kita yang menggerakkannya kan
kita tidak pasti berhasil, tetapi kalau Tuhan kan pasti berhasil.
Masalahnya begini, sekarang kalau Anda hitung secara matematik, kalau kita berkeinginan, kalau manusia berkeinginan,
Masalahnya
apakah ini jabariyah? Apakah ini saya "manut" 100% sama Tuhan?
Jawabnya, kita berbagi sama Tuhan. Kalau Tuhan mengatakan, "Mainlah sepak
bola!" Nah saya belajar bagaimana menendang, bagaimana menggiring, ngoper,
mencetak gawang dan lain sebagainya. Nah, itu adalah kerja sama antara Tuhan
dengan manusia atau pembagian tugas antara Tuhan dengan manusia.


