“Kita kalah, Ma, bisiku”.“Kita telah melawan, Nak,Nyo, sebaik-baiknya,sehormat-hormatnya”.
Pramoedya telah menampilkan sebarisan
Srikandi, sebagai pendekar yang bertarung
dengan kekuatan sejarah. Apakah simpati
Pramoedya kepada perempuan diakibatkan
Oleh nasib mereka yang sering terkungkung
Dibawah kekerasan patriarki sebagai sebuah
Kekuatan sejarah, dan karena itu perempuanlah yang
Menjadi kawan seperjuangan pengarang
menghadapi kekerasan politik?
Jalan hidup seperti lintasan
Roller
coaster.


