Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012


Alois A Nugroho (Direktur Pascasarjana Unika Indonesia Atma Jaya, Jakarta)

POSTMODERNISME sering dikatakan "membunuh rasio". Namun, sebenarnya tidak, ia hanya memecah belah dan membiarkannya tetap terpecah belah. Dampak pecah belah itu pun tak perlu diartikan sebagai adu domba. Benturan peradaban sering kali dianggap merupakan ekses dari postmodernisme. Sebenarnya tidak.
BENTURAN peradaban barangkali lebih harus menjadi tanggung jawab modernisme daripada postmodernisme. Dalam bentuknya yang lebih moderat, postmodernisme masih

Jumat, 15 Juni 2012




Kamis, 14 Juni 2012



Rabu, 13 Juni 2012



STRUKTURALIS ADALAH METODOLOGI
Manusia dan arbate nature-nya (alam) memiliki hubungan yang melahirkan culture (budaya). Culture melahirkan scap idea (karsa) dan karya. Manusia yang optimal dan seimbang karsa dan karyanya adalah manusia ideal.

Phylosopi Dimitri Mahayana
Dalam kerangka befikir fiqhiy, ada suatu istilah yang amat penting; fardhu. Fardhu adalah kewajiban yang harus dilakukan. Fardhu ‘ain artinya kewajiban bagi tiap individu. Fardhu kifayah artinya kewajiban bagi setiap kelompok orang (masyarakat). Setiap Muslim harus

 Bag 07

Bukti ketidakpastian

Ciri-ciri ‘pasti ada’
Ada beberapa ciri khas ‘entitas wajib’ li zatih. Antara lain sebagai berikut:

 Bag 06

Materialisme

Menurut pendapat Harold H. Titus dan kawan-kawan (1984, hlm. 293), pengertian ‘materialisme’ sekurang-kurangnya dapat diderkati lewat dua definisi sebagai berikut:

 Bag 05
PENGETAHUAN HUSHULI EKSTEMPORAL
Dua macam Pengetahuan hushuli ekstemporal
Pengetahuan hushuli ekstemporal (Al-Ma’rifah Al-Hushuliyah Al-Badihiyah), baik konseptual maupun assentual, dilihat dari aspek kualitas isinya terbagi dua;
  1. Pengetahuan ekstemporal prima (Al-Badihiyah Al-Awwaliyah).
  2. Pengetahuan ekstemporal sekunda (Al-badihiyah Al-tasnawiyah)

 Bag 04

Batas Pengetahuan hushuli assentual

Manusia secara naluriah didorong oleh rasa ingin tahu. Dengan bekal pengetahuan (hushuli, hushuli), sebagaimana telah dijelaskan  diatas, manusia berpeluang untuk menyingkap realitas di luar dirinya. Bahkan sebagian besar manusia ingin mengetahui segala sesuatu dan ingin memiliki pengetahuan yang mutlak. Mungkinkah itu? Apakah pengetahuan manusia terbatas ataukah tidak?

 Bag 03
 PENGETAHUAN HUSHULI
Pengetahuan hushuli, yang juga disebut pengetahuan hushuli (Al-Ma’rifah Al-Hushuliyah). Adalah konsep yang diperoleh oleh seseorang sembari menyadari dirinya sebagai subjek semata. (Metafisika, hal. 11, Lorens Bagus, Religius Language, hal. 36-38, Hakadza Nabda’, hal. 67, hal. 70, Durus fi Ilmil-Manthiq, 21).

 Bag 02

WUJUD SUBJEKTIF

Para filsuf muslim membagi quiditas-quditqas (Al-mahiyat) yang telah mengenakan busana wujud dalam realitas memiliki wujud lain yang tidak menyandang pengaruh-pengaruh objetif real. Wujud yang tidak memiliki konsekuensi-konsekuensi real inilah yang disebut dengan wujud subjektif (Al-wujud Adz-Dzihni), yaitu pengetahuan dan konsep kita tentang quiditas segala sesuatu.

Bag 01

 Banyak kalangan, terutama para tokoh yang diresmikan sebagai intelektual di perguruan tinggi-perguruan tinggi Barat, memandang Hawzah Ilmiyeh Qom dengan sebelah mata. Hal itu, boleh jadi, karena mereka tidak mampu menangkap dinamika intelektual yang terus berlangsung disana, atau karena mereka tidak menyelami ruhnya.

Selasa, 05 Juni 2012

oleh Jalaluddin Rakhmat                                                                                                                                                                           KetuaYayasan Muthahari, Bandung

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!